Stroke dan Stress Berat, Warga Garut Ini Akhirnya Mendapat Bantuan

Nasib tragis harus dialami Aan Supartini, warga Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Wanita berusia 45 tahun tersebut hanya bisa terbaring setelah mengalami stroke sejak 5 tahun lalu.

Keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu untuk mendapatkan tindakan medis yang maksimal guna kesembuhan penyakit yang dideritanya tersebut.

Saat kondisinya masih sehat, Aan kadang berkeliling mengamen mengais rezeki dengan menyusuri jalanan kota Garut hingga berpuluh kilometer untuk menghidupai anak-anaknya yang tinggal bersamanya.

Akibat stroke yang dialaminya, Aan mengalami kelumpuhan. Dia sama sekali tidak bisa mencari uang. Hanya bisa duduk di dalam rumah ukuran 4×4 meter tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk makan, dia mengandalkan pemberian dari warga sekitar yang peduli kepadanya. Meski mendapatkan PKH, tidak jarang uangnya malah dinikmati oleh suami dan istri barunya.

Pendampng PKH (Program Keluarga Harapan) Kelurahan Jaya Waras, Anggit, mengatakan, sebelum mengalami stroke, Aan sempat mengalami stress berat usai anak perempuannya mengalami gangguan jiwa setelah pulang dari Jakarta.

“Walaupan hanya 23 hari di sana (rumah sakit jiwa Bogor), tapi alhamdulillah ada perubahan yang cukup baik. Sekarang mah tidak banyak teriak-teriak lagi dan kadang nyambung kalau diajak ngobrol juga,” katanya.

Sementara itu untuk memberikan lagi pengobatan secara medis kepada Aan yang mengalami stroke, diakui Anggit, ia dan warga lainnya merasa bingung karena terbentur beberapa hal. Salah satunya terkait masalah biaya.

Kebingungannya itu terpecahkan setelah Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) stroke, Dapot Dariarma, datang berkunjung untuk melihat langsung kondisi Aan dan anaknya di rumahnya pada Minggu 23 Agustus 2020.        

Minggu (23/8), Dapot datang ke rumah Aan dan melihat kondisinya secara langsung. “Saya dapat informasi ada warga yang sakit dan tidak bisa berobat maksimal karena keterbatasan ekonominya jadi saya datang kesini saja langsung,” ujarnya.

Kedatangan Dapot ke rumahnya, awalnya disambut dengan biasa saja. Aan tidak berpikir bahwa dirinya kemudian akan mendapatkan perawatan medis di RSUD dr Slamet Garut. Aan tidak tahu kalau saat itu Dapot membantunya dengan cara berkoordinasi dengan sejumlah pihak yang bisa membantu perawatannya.

Saat itu memang Dapot mengaku langsung berkoordinasi dengan Sekretaris Dinas Kesehatan, dr Leli Yuliani dan dokter di RSUD dr Slamet Garut, dr Zaini Abdallah. “Keduanya menyanggupi membantu bu Aan agar dirawat maksimal di RSUD dr Slamet. Ya kita bersyukur,” akunya.

Dapot mengaku, langsung berkoordinasi dengan Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut, dr. Leli Yuliani dan dokter di RSUD dr. Slamet Garut, dr. Zaini Abdallah. Dan keduanya pun menyanggupi untuk membantu Aan agar dirawat maksimal di RSUD dr. Slamet Garut.

Namun sejurus kemudian, wajahnya terlihat sumringah setelah Dapot menyampaikan bahwa seluruh biaya pengobatan akan gratis dengan bantuan sejumlah pihak, termasuk diantaranya Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut.

“Ya intinya kita membantu, jangan sampai kemudian yang dibantu malah akan terbebani dengan persoalan lainnya kemudian. Saya sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan RSUD dr Slamet, dan dipastikan kalau hal itu tidak akan terjadi,” jelas Dapot.

Setelah mengetahui hal tersebut, Aan pun langsung bersemangat untuk berobat. Sebelum ambulans dari Puskesmas datang menjemput, dia sudah bergegas menaiki kursi rodanya. Aan kemudian langsung dibawa ke RSUD dr Slamet Garut untuk mendapatkan perawatan.

“Tinggal sekarang PR untuk kita ini pengobatan anaknya bu Aan yang mengalami gangguan jiwa. Kita akan coba koordinasi lagi baiknya seperti bagaimana. Kedepannya, kalau sudah sembuh akan kita dalami kebenaran cerita soal informasi ia dijualnya. Tapi yang penting ya sembuh dulu,” tutup Dapot.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *