Kisah Tangan-Tangan Mulia Bantu Sesama yang Miskin dan Tak Berdaya di Garut

Aan Supartini (45) hanya bisa duduk di dalam rumah yang dibangun di atas bantaran rel di Kampung Pedes, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Sudah bertahun-tahun dia menderita penyakit stroke. Tak pernah mendapatkan tindakan medis yang maksimal. Alasannya karena keterbatasan ekonomi.

Dulu Aan adalah pengamen yang bisa berkeliling puluhan kilometer. Mengais rezeki di jalanan Garut. Demi menghidupi anak-anaknya. Suaminya meninggalkannya. Menikah lagi. Sehingga Aan harus berjuang sendiri menghidupi buah hatinya.

Sudah lebih dari 5 tahun terakhir Aan menderita stroke. Pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) Kelurahan Jayawaras, Anggit menceritakan, sebelum mengalami stroke, Aan sempat mengalami stress berat. Sebab anak perempuannya mengalami gangguan jiwa usai pulang dari Jakarta.

“Jadi anaknya dulu memang ada yang mempekerjakan di Jakarta. Saat pulang tiba-tiba ada perubahan yang sangat drastis, bisa dikatakan gangguan jiwa. Kalau info yang beredar, anaknya bu Aan ini dijual di Jakarta dan bisa kabur ke Garut saat oleh majikannya disuruh membeli rokok. Di Garut, anaknya bu Aan ini mengalami gangguan jiwa, bahkan sempat menggugurkan kandungan,” ujarnya.

Aan mengurus anak perempuannya itu. Dia kerap mendengar anaknya meracau. Rupanya kondisi itu membuat pikiran Aan terganggu. Sehingga stress berat, lalu menderita stroke.

Akibat stroke yang dialaminya, Aan mengalami kelumpuhan. Dia sama sekali tidak bisa mencari uang. Hanya bisa duduk di dalam rumah ukuran 4×4 meter tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk makan, dia mengandalkan pemberian dari warga sekitar yang peduli kepadanya. Meski mendapatkan PKH, tidak jarang uangnya malah dinikmati oleh suami dan istri barunya.

Aan sempat menjalani perawatan dua kali di rumah sakit. Berbekal fasilitas BPJS. Namun karena tidak punya uang untuk membeli obat yang tidak ada di rumah sakit, akhirnya Aan memilih pulang paksa.

Di rumahnya, Aan tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Rudi yang bekerja sebagai pemulung. Anaknya yang gangguan jiwa diurus oleh istri Ketua RW kampungnya. Sedangkan anaknya yang lain tinggal bersama mertua Aan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

“Kalau sekarang rumah ibu Aan Alhamdulillah sudah layak ditempati dan aja kamar mandi juga toiletnya setelah dibersihkan oleh warga kampung sini. Sebelumnya mah kotor dan bau karena bu Aan ini buang air ya di sana saja karena tidak bisa kemana-mana. Mungkin sudah lama tidak mandi juga. Kemarin saat dibersihkan saya mandikan dan potong rambutnya,” kata Anggit.

Anggit bersama tokoh masyarakat sekitar sempat berupaya memberikan pengobatan kepada Aan dan anaknya yang gangguan jiwa. Untuk pengobatan anaknya Aan, ia pun sempat meminjam ambulans ke lembaga nirlaba untuk membawa ke rumah sakit jiwa di Bogor.

Setidaknya anaknya Aan mendapatkan perawatan selama 23 hari karena pihak rumah sakit hanya bisa menanggung pengobatan selama itu ketika pasien menggunakan BPJS. “Alhamdulillah walau hanya 23 hari ada perubahan yang cukup baik. Tidak banyak teriak-teriak sekarang,” katanya.

Anggit bersama warga lainnya, sempat merasa bingung saat hendak memberikan pengobatan medis kepada Aan. Namun kebingungannya itu terpecahkan setelah Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Garut, Dapot Dariarma mengetahui kondisi Aan dan anaknya itu.

Minggu (23/8), Dapot datang ke rumah Aan dan melihat kondisinya secara langsung. “Saya dapat informasi ada warga yang sakit dan tidak bisa berobat maksimal karena keterbatasan ekonominya jadi saya datang kesini saja langsung,” ujarnya.

Kedatangan Dapot ke rumahnya, awalnya disambut dengan biasa saja. Aan tidak berpikir bahwa dirinya kemudian akan mendapatkan perawatan medis di RSUD dr Slamet Garut. Aan tidak tahu kalau saat itu Dapot membantunya dengan cara berkoordinasi dengan sejumlah pihak yang bisa membantu perawatannya.

Saat itu memang Dapot mengaku langsung berkoordinasi dengan Sekretaris Dinas Kesehatan, dr Leli Yuliani dan dokter di RSUD dr Slamet Garut, dr Zaini Abdallah. “Keduanya menyanggupi membantu bu Aan agar dirawat maksimal di RSUD dr Slamet. Ya kita bersyukur,” akunya.

Saat itu, sejumlah petugas medis dari Puskesmas Haurpanggung pun kemudian datang ke rumahnya Aan. Aan mendapatkan perawatan awal untuk mengetahui kondisinya dan menanyakan tentang riwayat pengobatan.

Setelah diperiksa singkat, dokter Puskesmas memang menyarankan agar Aan mendapatkan perawatan di rumah sakit karena kondisinya yang cukup parah. Awalnya, Aan pun kebingungan karena mengetahui saat dirawat harus keluar uang untuk membeli obat yang katanya tidak dicover BPJS.

Kegembiraan terlihat dari raut wajah Aan. Saat Dapot menyampaikan bahwa seluruh pengobatannya akan gratis. Karena bantuan sejumlah pihak, termasuk Kejaksaan Negeri Garut.

“Ya intinya kita membantu, jangan sampai kemudian yang dibantu malah akan terbebani dengan persoalan lainnya kemudian. Saya sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan RSUD dr Slamet, dan dipastikan kalau hal itu tidak akan terjadi,” jelas Dapot.

Setelah mengetahui hal tersebut, Aan pun langsung bersemangat untuk berobat. Sebelum ambulans dari Puskesmas datang menjemput, dia sudah bergegas menaiki kursi rodanya. Aan kemudian langsung dibawa ke RSUD dr Slamet Garut untuk mendapatkan perawatan.

“Tinggal sekarang PR untuk kita ini pengobatan anaknya bu Aan yang mengalami gangguan jiwa. Kita akan coba koordinasi lagi baiknya seperti bagaimana. Kedepannya, kalau sudah sembuh akan kita dalami kebenaran cerita soal informasi ia dijualnya. Tapi yang penting ya sembuh dulu,” tutup Dapot.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *